copy paste perantauan I

Ilmu adalah alat,
meskipun ilmu itu baik,
ia hanyalah alat,
bukan tujuan (matlamat).
Makanya,
ilmu harus diiringi adab,
akhlak dan niat yang soleh
(Iman, Islam, Ihsan dan ilmu).

Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang juga
Biar alam hancur dan musnah
Jasa mu tetap dikenang juga.


FIRMAN ALLAH SWT:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ
لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ
وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Dan bagi tiap-tiap umat ada tempoh
(yang telah ditetapkan);
maka apabila datang tempohnya,
tidak dapat mereka dikemudiankan
walau sesaatpun
dan tidak dapat pula mereka didahulukan.
(SURAH AL-ÁRAF 7: AYAT 34)

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah
dan kepada Allah jualah kami kembali.
(Surah Al-Baqarah: Ayat 156)

Menangislah, kerana meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah.
Sebuah perkara yang akan mendatangkan akibat bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantiasa mendengar habuan mereka.
Mena
ngislah, jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .

Ibnu Abbas Ra. berkata tentang firman Allah: “Dan apakah mereka tidak melihat bahawa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu
(sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?”
(QS. ar-Ra’d ayat 41).
Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama.”

Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far Ra. berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al-Quran secara terang mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, iaitu firman Allah Swt. yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?”
(QS. ar-Ra’d ayat 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid,
ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya).
Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama.
(Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 472).

Rasulullah Saw. yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah Saw. bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran
yang tak boleh ditampal.
Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.”
(HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda).

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu

Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia.
Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya.
Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu.
Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi.” Sahabat bertanya: “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu boleh pergi (hilang)?” Rasulullah Saw. menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).”
(HR. ad-Darimi, ath-Thabarani no. 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar,
di antaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya,
tetapi mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama.
Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari no. 100).

Kebelakangan ini telah banyak ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra.:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

“Jika satu ulama wafat,
maka ada sebuah lubang dalam Islam
yang tak dapat ditampal
kecuali oleh generasi penerusnya.”
(Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 15).


Dalam kitab Tanqih al-Qaul, al-Imam al-Hafidz Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ
مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”


Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

***

Bersatu elok elok
ada guru
ada ibu
ada bapa
mereka sebagai penghubung @ penyambung @ wasilah untuk kita kembali kepada Tuhan kita, Allah SWT.

ROH ADA PERJALANANNYA.
JASAD PUN ADA PERJALANANNYA.

AMANAH GURU MENDIDIK MANUSIA MENJADI INSAN CEMERLANG.


***

Urusanku belum selesai selagi
Belum ku temui sinarnya
Hendaknya dalam perjalanan ini
Kau bekalkan ku Al-Fatehah
Dengarlah suara memanggil
Bagai bersenandung
Sedarlah perjalanan ini hampir tamat
Sampaikan hasratku pada mereka
Yang soleh
Oh teman
Katakan ku ingin bersama mereka
memohon keredhaannya  
 
 


- Al-Jawaher & M Nasir (1981)   

Comments

Popular Posts